Senin, 05 Maret 2012

“ WARNA DALAM DUNIA REMAJA”

WARNA DUNIA REMAJA saat ini berkembang maju dengan pesatnya dan bebas dari nilai norma-norma yang ada dalam agama. Namun dalam ajaran Islam pengembangan ilmu dan teknologi terbatas dalam ketentuan al-Qur’an, Hadist, dan Ijma’ para ulama. Adanya warna dalam “Dunia Remaja” bertujuan untuk memperkaya dan meningkatkaan wawasan keilmuan, dan untuk menjembatani dan menyatukan dua wilayah keilmuan dan ajaran Islam yang ada dalam jiwa remanaja masa kini.

Dengan adanya warna dalam “Dunia Remaja” diharapkan remaja atau anak usia 14 – 25 tahun (pra nikah) dapat menunjang pembentukan diri dan mampun berkompetisi sehingga remaja dapat membentuk dan menemukan kepribadian serta menerima teknologi dan pengetahuan umum yang terkait dengan ajaran Islam.

Metode dan teknik Islam dalam “Dunia Remaja” merupakan akibat atau konsekuensi dari suatu pendekatan agama sebagai suatu sistem tata nilai dan norma yang membentuk (dalam arti menciptakan atau sekurang-kurangnya mempengaruhi) budaya dan atau peradaban sehingga membawa konsekuensi pengertian ibadah dalam arti luas sebagaimana tercakup dalam do’a “Inna Shalati wa Nusuki Wamahyaya Wa Mamati lillahi Robbi-Alamin” memandang hakekat manusia dalam relasi fungsionalnya sebagai makluh hamba Allah, Individu dan manusia sosial yang mempunyai lingkungan hidup tertentu dalam alam semesta ini.

Dalam “Dunia Remaja” yang ada saat ini, merupakan suatu usaha untuk menyajikan pendidikan agama yang mencoba mengukur kebenaran ilmu dengan alat ukur kaidah agama dan atau pandangan ilmiah yang bertata nilai (Volue Committed Approach).

Untuk mengembangkan dan mewujudkan pribadi Islam dalam dunia remaja, maka setidaknya kita memerlukan dua upaya yakni : pertama; menetapkan wawasan manusia menurut al-Qur’an (dan al-Hadits) sebagai landasan filosofi Prilaku Islam. Dalam hal ini wawasan-wawasan lain mengenai manusia disinkronkan dengan wawasan Islam itu sendiri (yang lebih dikenal dengan Islamisasi Psikologi).

Kedua, meningkatkan komitmen para tokoh muslim terhadap nilai-nilai Islami. Yang dilandasi dengan sikap rendah hati untuk menempatkan petunjuk-petunjuk wahyu di atas akal fikiran mereka, dan kesetujuan untuk menjadikan al-Quran (dan al-Hadits) sebagai rujukan utama dalam warnanya “Dunia Remaja” (yang lebih dikenal dengan Muslimisasi Psikologi).

Corak warna dalam “Dunia Remaja” berlandaskan citra manusia menurut ajaran islam yang mempelajari keunikan dan pola pengalaman manusia berinteraksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam kerohanian dengan tujuan menigkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan.

Adanya warna dalam “Dunia Remaja” pada awal mulanya sangatlah banyak sekali tantangan yang dilaluinya. Begitu banyaknya tantangan maka munculnya dilema yang dalam dunia psikologi berarti situasi yang sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan. Dari munculnya dilema tersebut mengakibatkan perlunya ada sebuah pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Salah satunya adalah melalui pendekatan simpatik guna membuka mata terhadap kebenaran-kebenaran prinsip-prinsip Islam mengenai manusia dan alam semesta.

Dari uraian di atas, bahwa situasi konflik /sengketa/dilema yang ada tidak bisa dihindari dari kehidupan, dan tidak selalu menimbulkan dampak negatif; bahkan sebaliknya dapat lebih memantapkan kedewasaan pribadi selama dapat diatasi secara tepat.

Dalam menghadapi situasi konflik /sengketa/dilema dibutuhkan ada 5 pola sikap yang harus diterapkan pada remaja muslim, yakni : APATIK; yaitu acuh tak acuh dan tidak ada minat membicarakan hubungan antara agama dengan dunia remaja (etika pergaulan), FANATIK; yaitu berpendapat bahwa agaman telah mencukupi segala-galanya dalam kehidupan manusia, ilmu pun sudah tercakup dalam agama, karena ilmu adalah sunatullah, yang menunjukan bahwa akal manusia serba terbatasi. (Integritas Psikologi menuju Psikologi Islami:Hana Djumhana:42:86), SEKULARISTIK; yaitu menganggap tidak ada hubungan asasi antara ilmu dengan agama, sehingga keduanya harus dipisahkan dan dibedakan dengan tegas, ANTAGONIK; yaitu menyakini agama dan sekaligus penganut fanatik aliran psikologi tertentu, IDEALISTIK; yaitu bersikap positif terhadap gagasan dan upaya islamisasi ilmu dan mendambakan terwujudnya kedewasaan muslim (remaja) pada umumnya.

Sejak kebangkitan Islam Abad XV Hijiriyah adalah Islamisasi Ilmu. Terdapat 4 (empat) hal yang melatarbelakanginya yakni : (a) adanya kesenjangan antara ilmu dengan Al-Qur’an dalam menjelaskan gejala-gejala alam dan diri manusia, agama yang menghargai akal budi manusia serta menghargai ilmu pengetahuan, (b) Islam menganggap ilmu disamping iman sebagai salah satu karakteristik manusia, (c) Ilmu mengakui adanya prinsip, unsur dan proses yang teratur didalam ini disebut Hukum Alam. Pada hakekatnya upaya manusia untuk menemukan hukum alam serta atas dasar itu mampu meramalkan apa yang akan terjadi dikemudia hari, (d) Waktu ini makani disadari bahwa adanya berbagai ketimpangan yang merugikan akibat terpisah dan terkotak-kotanya ilmu dan agama.

Gambaran mengenai struktur keilmuan dan psikologi islami dalam “Dunia Remaja” antara lain adalah (1) Dalam Q.S. 41, Fushihat : 53; “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?..” (Qs.41, Fushlihat ayat 53) (2) Ayat-ayat Qur’ani ; diwahyukan dalam bahasa manusia kepada para rasul (cq. Muhammad Saw,) kemudian dituliskan dan dihimpun berupa kitab suci (Al-Qur’an al Karim). (3) Ayat0ayat Aafaaqi : ketentuan tuhan yang ada dan bekerja pada alam semesta, khususnya alam fisik. (4) Ayat-ayat Nafsani : ketentuan Tuhan yang ada dan bekerja pada diri manusia termasuk kejiwaannya.

Pada dasarnya warna dalam dunia remaja adalah dunia dimana manusia mengalami serangkaian adabtasi pribadi/jiwa yang tak menentu kemudian berkorabolasi dengan beranekaragam citra dunia sehingga menjadi satu pribadi yang utuh dan mandiri yang memeliki ciri khas atau pesona pribadi.

Kepribadian remaja pada dasarnya terdapat 3 hal yakni Id adalah dorongan biologis, Ego adalah kesadaran terhadap realitas kehidupan, dan Super Ego adalah kesadaran normative yang berinteraksi satu sama lain yang masing-masing memiliki ciri khas.

Selain itu remaja memiliki 3 strata kesadaran yakni Alam sadar, Alam Prasadar dan Alam Taksadar. Yang diumpamakan remaja adalah “ gunung es yang terapung disamudra” yang artinya sebagaian kecil tampak dipermukaan (alam sadar) bagian terbesar tidak tampak karena ada didalam samudra (alam tak sadar) dan diantara keduanya ada bagian yang karena gerakan naik-turunya gelombang kadang-kadang hilang terendam dibawah permukaan atau tampak muncul keatas.

Dalam dunia nyata remaja dituntut untuk mampu mempunya kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif yang harus diikuti dengan adanya kecerdasan dalam berfikir, bertindak dan melaksanakan segala kegiatan yang ada. Kecerdasan dalam dunia remaja antara lain : (a) Kecerdasan Intelektual, (b) Kecerdasan Emosional, (c) Kecerdasan Spiritual, (d) Kecerdasan Moral, (e) Kecerdasan Qalbiah (Kalbiah:mengenal kalbu), (f) Kecerdasan Rohaniah (rasa cinta yang mendalam). Demikian sekelumit akan “Warnanya Dunia Remaja” dari latar belakang serta sedikit pengetahuannya semoga berguna untuk bekal beradaptasi dalam dunia nyata yang tidak terimbas dalam dunia gelap dan gila akan kemunafikan dari kenyataan yang ada yang disalah gunakan dan salah artikan. (Nur Dewi Setyowati, S.Sos, M.Si)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar